Tampilkan postingan dengan label shahabiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label shahabiyah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Maret 2013

Ibunda Para Syuhada



Mujahidah Pertama
Sumayyah r.a
Keluarga Yasir. Itulah leluarga mujahidin pertama yang menyumbangkan tetesan darahnya demi tegaknya risalah Islam. Mereka adalah orang-orang yang beriman dari kalangan penduduk Makkah yang miskin, budak belian atau kaum papa. Tapi, ketika keimanan telah menyelubungi jiwa, kehinaan berganti menjadi izzah dan kehormatan.
Karena dari golongan bawah, mereka menghadapi siksaan yang sangat mengenaskan, didera dan disulut dengan api yang menyala-nyala. Perihal penyiksaan ini mereka serahkan pada Bani Makhzum. Setiap hari Yassir, Sumayyah dan Ammar dibawa ke padang pasir Mekkah yang demikian luas dan panas, lalu didera dengan berbagai siksaan.
Rasulullah setiap hari berkunjung ke tempat disiksanya keluarga Yassir itu, mengagumi ketabahan dan kepahlawanannya, sementara hatinya yang mulia bagaikan hancur karena santun dan belas kasihan menyaksikan mereka menerima siksaan yang tiada terperikan.
Pada suatu ketika, Rasulullah saw mengunjungi mereka, Ammar memanggilnya seraya berkata, “ wahai Rasulullah, siksaan yang kami derita ini telah sampai ke puncak.” Maka Rasulullah saw berseru, “ sabarlah wahai Abal Yaqdhan… sabarlah wahai keluarga Yasir… tempat yang dijanjikan kalian adalah surga…!”
Dikatakan oleh Amar bin Hakam bahwa, “Ammar itu disiksa sampai-sampai ia tidak menyadari apa yang diucapkannya.”
Ammar bin Maimun berkata:
Orang-orang musyrik membakar Ammar bin Yasir dengan api. Maka, Rasulullah lewat di tempatnya lalu memegang kepalanya dengan tangan beliau, seraya bersabda, “Hai api, jadilah kamu sejuk dingin di tubuh Ammar sebagaimana dulu kamu juga sejuk dingin di tubuh Ibrahim..!
Karena amat beratnya siksaan tersebut, Ammar mersa sangat sedih. Mengapa? Ia sedih bukan karena siksaan yang di tanggungnya, akan tetapi siksaan itu mengakibatkannya tiada sadar mengucapkan kata-kata yang bertentangan dengan nuraninya.
Ketika Rasulullah menemui sahabatnya, didapati ia sedang menangis, maka disapunya tangis tersebut dengan tangan beliau seraya bersabda, “orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkan kedalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu…?” “benar, wahai Rasulullah!” ujar Amar sambil meratap.
Maka sambil tersenyum Rasulullah bersabda, “jika mereka memaksa lagi, taka pa, ucapkanlah seperti apa yang engkau katakan tadi.” Lalu dibacakan oleh Rasulullah untuknya ayat berikut, “Kecuali orang yang dipaksa sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan. (QS. An-Nahl 106)
Begitulah keluarga Yasir menanggung resiko atas pilihan sadar mereka. Yasir syahid. Amar disiksa dengan sangat keras. Demikian juga sumayyah. Namun sumayyah tetap tegar menghadang siksaan. Tak gentar menghadapi intimidasi. Tak surut melangkah kaki. Ketegaran sumayyah menjadi bukti keteladanan seorang ibu, bukti kepahlawanan wanita yang gagah berani. Benar-benar contoh yang terbukti, berjihad di garda depan. Rela berkorban menanggung siksaan. Hingga akhirnya Abu Jahal menghunjamkan tombaknya menembus kehormatannya. Akhirnya Sumayyah pun menjadi wanita pertama yang syahid. Syahidah Sumayyah telah meneladani kita bagaimana pengorbanan jiwa raga dan seluruh kehidupannya untuk islam.
Oleh karena itu, kita diharapkan bisa menjadi sosok Sumayyah di masa ini. Tak perlu dengan mengangkat senjata untuk berperang, tapi dengan keteladanan menjadi sosok wanita yang bisa menempatkan perannya sebagai wanita muslimah. Memegang erat keistiqamahan dalam aturan yang sudah di tetapkan dalam al-Qur’an. Mendidik anak-anaknya menjadi anak yang shaleh, dan mampu mengarahkan perkembangan pendidikan saat ini dengan pendidikan al-Qur’an.
Wallahu’alam bishawab…

Kamis, 06 Desember 2012

Cermin #Shahabiyah


“UMMU HABIBAH”

Membaca kisah para shahabiyah rasanya tidak ada bosan-bosannya. Bukan karena kisah mereka yang menampakkan sosok sempurna bagi seorang wanita, namun lebih daripada itu. Tampilan sosok wanita yang digambarkan bak bidadari dengan wajah yang selalu berseri- seri, lurus pemikirannya, sopan dalam bertutur kata dan bijaksana dalam membuat keputusan, namun bukan karena itu juga. Perlu kiranya bagi kita untuk menelusuri kehidupan mereka, hingga kita sadar betapa jauhnya perbedaan antara wanita yang masih menghirup udara segar di zaman Rasulullah dengan wanita zaman sekarang. Dengan demikian insya Allah akan tumbuh rasa ingin belajar dan memperbaiki diri lebih mendekat dengan kehidupan para shahabiyah.
Ummu Habibah yang mempunyai nama asli Ramlah binti Abu Sufyan. Lahir di tengah keluarga yang kental dengan ajaran nenek moyang dan memiliki ayah yang tidak lain adalah pemuka Quraisy, lantas kemudian tidak menjadikan hatinya tertutup untuk sebuah hidayah. Karena sejatinya, siapapun yang sudah diberi hidayah oleh Allah maka tidak akan ada yang dapat mencegahnya. Pun sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki hidayah untuk seseorang maka tidak ada satupun yang bisa memaksanya. Ummu Habibah adalah satu contoh kebenaran pernyataan ini. Dengan ketegasannya, beriman kepada Allah dan RasulNya menjadi pilihan saat seruan itu sudah datang.
Ternyata semakin tinggi keimanan seseorang maka semakin tinggi pula ujian yang diterimanya. Ummu Habibah juga mengalami kondisi yang demikian. Setelah bersusah payah memperjuangkan keislamannya di hadapan ayahnya, Abu Sufyan, dia kemudian diuji dengan murtadnya suaminya, Ubaidullah bin Jahsys. Menjadi satu pelajaran yang sangat berharga, di tengah kondisi yang rumit itu, ternyata dia tetap mampu berpegang teguh pada keyakinannya. Dan rencana Allah tentulah sangat indah untuk mereka yang menjaga kesucian dirinya. Akhirnya beliau dipersunting oleh Rasulullah sebagai istrinya. Subhanallah!
Shahabiyah ini patut menjadi panutan kita di tengah hiruk-pikuk dunia ini. Saat harta dan jabatan dirasa lebih mulia dibandingkan keistiqamahan. Saat wanita yang mampu menghasilkan banyak uang setelah sekolah tinggi dianggap hebat walau tanpa sadar mereka telah jauh dari kodratnya sebagai ibu bagi anak- anaknya. Wanita ini juga memberi pelajaran bagi kita ternyata Allah tidak akan memberi beban kepada kita jika kita tidak sanggup. Oleh karena itu, apapun yang kita hadapi saat ini, semua itu adalah bukti Allah cinta pada kita. Allah ingin kita lebih dekat denganNya, setelah selama ini mungkin kita hidup di bawah kesenangan yang melalaikan kita. Kita pun belajar dari  dari shahabiyah itu bahwa wanita perlu memiliki prinsip. Karena bagaimanapun keadaan kita kelak di hadapanNya tergantung pada keputusan kita hari ini. Semoga Allah selalu meneguhkan hati kita hingga selalu condong pada kebenaran dan ketaatan padaNya.


Senja_dari berbagai sumber

Jumat, 21 September 2012

Pemilik Dua Ikat Pinggang (Dzatu an-Nithaqain)


Mujahidah ini merupakan saudara sepupu Rasulullah, beliau shahabiyah yang dibesarkan dilingkungan yang sangat mendukung terhadap perkembangan dakwah Rasulullah dalam menyebarkan Islam. Seorang istri yang menikah dengan seorang sahabat yang gigih melindungi Rasulullah dan menjadi orang pertama yang menghunuskan pedangnya untuk berjihad dijalan Allah. Zubair bin Awam. Rasulullah juga pernah berkata tentangnya, “Setiap Nabi memiliki pengikut setia (hawari) dan pengikut setiaku adalah Zubair.”  Mereka juga dikarunia anak yang bernama Abdullah bin Zubair, seorang sahabat yang menjadi symbol dalam ilmu, ibadah, kemuliaan, dan perjuangnnya dalam berjihad memenangkan aturan Allah. Juga menurut Ja’far Ath-Tabari di dalam kitabnya mengatakan bahwa itulah kelahiran pertama di Darul Hijrah (Madinah) dari kalangan muhajirin. Saat bayi itu lahir, para sahabat Nabi meneriakan takbir. Hal itu karena tersiarnya kabar bahwa orang-orang Yahudi telah menyihir kaum muslimin sehingga mereka tidak bisa memperoleh keturunan. Mereka meneriakan takbir sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah yang telah membongkar kebohongan kaum Yahudi.
            Tak dipungkiri, keberadaanya dilingkungan itu menjadikannya sosok yang lebih kuat dan yakin akan kebenaran. Beliau menjalankan perannya sebaik mungkin. Sejarah telah mencatat peran Asma dalam peristiwa hijrah Rasulullah, sehingga beliau menyebutnya dengan Dzatu an-Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang). Karena ketika Rasulullah hijrah ke Madinah dan bersembunyi di gua tsur, beliau lah yang mengantarkan makanan kepada Rasulullah dan ayahnya Abu Bakar seorang diri dengan menggunakan ikat pinggang untuk makanannya juga untuk tubuhnya sendiri.
            Bahkan Asma pernah didatangi para pembesar Quraisy, diantaranya adalah Abu Jahal. dia mendatangi Asma karena ingin menanyakan keberadaan Abu Bakar dan Rasulullah. Namun Asma mengingkari bahwa dia tidak mengetahui keberadaan ayahnya. Hingga Abu Jahal memaksa sampai memukulnya dengan keras, mengakibatkan telinga dan pendengarannya rusak dalam waktu yang cukup lama.
            Keteladanannya yang sempurna dalam hal sabar dan syukur, sabar ketika kekurangan dan bersyukur atas ni’mat yang didapat. Sosok kedermawanannya banyak menoreh pesan menarik untuk keluarganya, “Bersedekahlah kalian, dan jangan menunggu kelebihan harta. Jika kalian menunggu kelebihan harta, maka kalian tidak akan mendapatkannya.”
            Suatu ketika putranya membaiat khalifah kaum muslimin yang berpusat dikota Mekah. Namun, Bani Umayyah tidak menerima hal itu, mk suatu pasukan tentara yang ganas dibawah pimpinan Al-Hajjaj Ats-Tsaqafi keluar dari Syam untuk memaksanya agar tidak membaiat khalifah makkah atau membunuhnya jika menolak pilihan pertama. Terjadilah pengepungan kota Makkah dan orang-orang yang ada didalamnya, terjadilah perundingan antara kekuatan tentara dari syam dan kekuatan kelompok orang-orang mukmin yang tetap sabar dalam kota Makkah. Suasana sangat mencekam, karena alat-alat perang yang dilempar berjatuhan mengenai tiang-tianf ka’bah. Abdullah bin Zubair dan pengikutnya lari keluar dari Makkah dan meninggalkan khalifahnya yang nasibnya tidak diketahui.
            Ketika itu, Abdullah pergi kepada ibunya Asma yang sudah berumur seratus tahun dan matanya sudah buta, tidak melihat. Abdullah berkata, “Wahai Ibunda, orang-orang telah menghinakanku sampai juga anak dan keluargaku, tidak ada yang mengikutiku hanya sedikit sekali.”
            Sang Ibunda berkata,”Demi Allah wahai putraku, kamu lebih mengetahui tentang urusanmu. Jika kamu tahu bahwa kamu ada dalam pihak yang benar dan kamu mengajak kepadanya maka tetaplah dan berpegangteguhlah. Teman-temanmu telah terbunuh karenanya dan janganlah budak-budak Umayah mempermainkanmu.”
“Tetapi jika perjuangan ini demi dunia maka kamu adalah budak yang paling buruk. Kamu telah menghancurkan dirimu sendiri dan binasalah orang-orang yang berperang denganmu.”
“jika kami katakana bahwa kamu berada dalam pihak yang benar dan sahabat-sahabatku telah lemah maka kamu pun lemah. Ini bukanlah perbuatan orang-orang yang merdeka, bukan juga ahli agama.” Asma pun mellanjutkan pembicaraannya dan berkata, “ berapa lama keabadianmu didunia yang pana ini? Berperang adalah lebih baik?”
Abdullah pun mendekat keppalanya lalu berkata, “ Demi Allah, ini adalah pendapatku juga tetapi aku inginmengetahui pendapat ibunda dan pendapat ibunda telah menambah keyakinanku.”
“lihatlah wahai Ibunda, aku mungkin terbunuh hari ini, maka janganlah engkau terlalu bersidih dan serahkanlah seluruhnya kepada Allah.”
Ibunda Asma berkata,”Benar apa yang engkau katakana wahai putraku, Allah telah menguatkan keyakinanmu dan mendektlah kepadaku. Aku akan mengucapkan selamat berpisah.” Abdullah pun mendekati ibunya dan memeluk serta menciumnya. Lalu keluar untuk berperang dan terus berperang hingga syahid.
Al-Hajjaj tidak meletakan tubuh Abdullah bin Zubair diatas kayu dan dia bersumpah untuk tidak menurunkannya hingga ibunda Abdullah member syapaat untuk dirinya. Namun Asma, seorang ibu yang imannya kuat dan penyabar menolak untuk menundukan kepalanya kepada Al-Hjjaj selamanya. Dia tahu kalau putranya syahid fi sabilillah. Dia tetap hidup seperti dalam firman Allah,
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-oarang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezeki.”(QS. AL-Imron:169)
Tubuh Abdullh masih terus tersimpan di atas kayu,hingga suatu hari bunda Asma lewat di dekatnya dan berkata,” sekarang waktunya kesatria ini untuk pergi.” Al-Hajjaj menafsirkan pernyataan Asma ini sebagai syafaat, lalu tubuh Abdullah pun diturunkan.
Pada riwayat lain disebutkan bahwa Abdullah bin Marwan memerintahkan untuk menurunkn tubuh Abdullah bin Zubair dan Ibunya berkata,”Ya Allah, janganlah Engkau mematikanku sampai pelita hatiku mendapatkan tempat yang tenang.” Ketika tubuh Abdullah bin Zubair dikuburkan dengan tenang, satu minggu setelah itu meninggal.
Dalam suatu riwayat juga disebutkan bahwa suatu hari AL-Hajjaj masuk bertemu Asma dengan bertakbir dan berkata,” Apa pendapatmu tentang yang aku lakukan terhadap putramu?” Asma menjawab, ”Kamu telah menghancurkan duninya dan akhiratmu.”
Sungguh jawaban yang penuh hikmah dari seorang wanita mukminah, putri dari Abu Bakar Ash Shidiq. Asma telah banyak mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya Abu Bakar. Dia seorang Ibu yang telah mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang sebbaik-baiknya. Ketka menikah, dia telah menjadi istri yang ideal, yang telah berhijrah demi agamanya dan lari kepada Rabbnya. Sjarah telah mengabadikan keharuman namanya.
Kita mungkin bertanya-tanya dan berharap, seandainya Asma, sang pemilik dua lilitan ikat pinggang hidup kembali di zaman sekarang dan ingin menasihati putri-putrinya menjadi istri-istri yang shalehah, ibu-ibu yang baik yang selalu menjaga diri dan keluarganya. Siapa pun bisa menjadi seperti Asma, dengan Asma-Asma yang lain sesuai perannya. Selama itu masih dalam satu jalan yang kita tempuh, yakni islam.