Mujahidah
Pertama
Sumayyah
r.a
Keluarga
Yasir. Itulah leluarga mujahidin pertama yang menyumbangkan tetesan darahnya
demi tegaknya risalah Islam. Mereka adalah orang-orang yang beriman dari
kalangan penduduk Makkah yang miskin, budak belian atau kaum papa. Tapi, ketika
keimanan telah menyelubungi jiwa, kehinaan berganti menjadi izzah dan
kehormatan.
Karena
dari golongan bawah, mereka menghadapi siksaan yang sangat mengenaskan, didera
dan disulut dengan api yang menyala-nyala. Perihal penyiksaan ini mereka
serahkan pada Bani Makhzum. Setiap hari Yassir, Sumayyah dan Ammar dibawa ke
padang pasir Mekkah yang demikian luas dan panas, lalu didera dengan berbagai
siksaan.
Rasulullah
setiap hari berkunjung ke tempat disiksanya keluarga Yassir itu, mengagumi
ketabahan dan kepahlawanannya, sementara hatinya yang mulia bagaikan hancur
karena santun dan belas kasihan menyaksikan mereka menerima siksaan yang tiada
terperikan.
Pada
suatu ketika, Rasulullah saw mengunjungi mereka, Ammar memanggilnya seraya
berkata, “ wahai Rasulullah, siksaan yang kami derita ini telah sampai ke
puncak.” Maka Rasulullah saw berseru, “ sabarlah wahai Abal Yaqdhan… sabarlah
wahai keluarga Yasir… tempat yang dijanjikan kalian adalah surga…!”
Dikatakan
oleh Amar bin Hakam bahwa, “Ammar itu disiksa sampai-sampai ia tidak menyadari
apa yang diucapkannya.”
Ammar
bin Maimun berkata:
Orang-orang
musyrik membakar Ammar bin Yasir dengan api. Maka, Rasulullah lewat di
tempatnya lalu memegang kepalanya dengan tangan beliau, seraya bersabda, “Hai
api, jadilah kamu sejuk dingin di tubuh Ammar sebagaimana dulu kamu juga sejuk
dingin di tubuh Ibrahim..!
Karena
amat beratnya siksaan tersebut, Ammar mersa sangat sedih. Mengapa? Ia sedih
bukan karena siksaan yang di tanggungnya, akan tetapi siksaan itu
mengakibatkannya tiada sadar mengucapkan kata-kata yang bertentangan dengan
nuraninya.
Ketika
Rasulullah menemui sahabatnya, didapati ia sedang menangis, maka disapunya
tangis tersebut dengan tangan beliau seraya bersabda, “orang-orang kafir itu
telah menyiksamu dan menenggelamkan kedalam air sampai kamu mengucapkan begini
dan begitu…?” “benar, wahai Rasulullah!” ujar Amar sambil meratap.
Maka
sambil tersenyum Rasulullah bersabda, “jika mereka memaksa lagi, taka pa,
ucapkanlah seperti apa yang engkau katakan tadi.” Lalu dibacakan oleh
Rasulullah untuknya ayat berikut, “Kecuali orang yang dipaksa sedang hatinya
tetap teguh dalam keimanan. (QS. An-Nahl 106)
Begitulah
keluarga Yasir menanggung resiko atas pilihan sadar mereka. Yasir syahid. Amar
disiksa dengan sangat keras. Demikian juga sumayyah. Namun sumayyah tetap tegar
menghadang siksaan. Tak gentar menghadapi intimidasi. Tak surut melangkah kaki.
Ketegaran sumayyah menjadi bukti keteladanan seorang ibu, bukti kepahlawanan
wanita yang gagah berani. Benar-benar contoh yang terbukti, berjihad di garda
depan. Rela berkorban menanggung siksaan. Hingga akhirnya Abu Jahal
menghunjamkan tombaknya menembus kehormatannya. Akhirnya Sumayyah pun menjadi
wanita pertama yang syahid. Syahidah Sumayyah telah meneladani kita bagaimana
pengorbanan jiwa raga dan seluruh kehidupannya untuk islam.
Oleh
karena itu, kita diharapkan bisa menjadi sosok Sumayyah di masa ini. Tak perlu
dengan mengangkat senjata untuk berperang, tapi dengan keteladanan menjadi
sosok wanita yang bisa menempatkan perannya sebagai wanita muslimah. Memegang
erat keistiqamahan dalam aturan yang sudah di tetapkan dalam al-Qur’an.
Mendidik anak-anaknya menjadi anak yang shaleh, dan mampu mengarahkan
perkembangan pendidikan saat ini dengan pendidikan al-Qur’an.
Wallahu’alam
bishawab…

0 komentar:
Posting Komentar